UJIAN SEMESTER JADI BARANG ANTIK

UJIAN SEMESTER JADI BARANG ANTIK

UN TETAP PENYELEWENGAN

Menanggapi tulisan saudara guru SMKN I Saptosari Gunung Kidul,rupa-rupanya anda dan saya termasuk juga penggemar barang antik sebab masih peduli tentang Ujian semester buat anak didik kita.Mungkin ini merupakan salah satu bentuk tampilan dari hukum I Newton yang disebut hukum kelembaman ( kemalasan ),kita guru –guru tua masih punya anggapan bahwa ujian semester merupakan penentuan klimak dari hasil belajar siswa selama satu semester,artinya nilai ujian semester sebagai pathok terkuat untuk menentukan nilai akhir semester.

Namun dikalangan pemdidikan Sekolah Menengah Atas yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Ujian akhir semester jutru hanya sebagai pelengkap seakan ulangan remidial secara bersama-sama. Bobot nilainya lebih rendah dibanding nilai harian setiap Kompetensi Dasar.Mengapa demikian ,karena pada dasarnya KTSP menganut sistem ketuntasan belajar sehingga bagi siswa yang nilai setiap KD nya sudah tuntas secara otomatis mereka secara langsung sudah dinyatakan selesai dalam menempuh pembelajaran semester terkait.

Yang aneh tapi nyata ,dikalangan sekolah Sekota maupun Sekabupaten masih sering mengadakan ulangan umum bersama setiap mengakhiri kegiatan akhir semester,entah ini merupakan kebijakan persatuan kepala sekolah atau justru merupakan salah satu bentuk penyelewengan belaka, namun kenyataanya kepala Dinas terkait juga banyak yang merestui.Penulis tidak berprasangka buruk kepada pejabat-pejabat tersebut mungkin memang ada unsur kesengajaan karena dikaitkan dengan adanya Ujian Nasional.

Dalam pernyataan Ki Supriyoko (KR,3 Desember 2010) menyatakan bahwa ketidak pastian penyelenggaraan UN akibat dari sistem pendidikan yang salah kaprah.Maaf saya sebagai petugas lapangan pendidikan alias Guru menyatakan bahwa sistem Pendidikan di Indonesia saat ini bukan salah kaprah tetapi salah langkah.Hal saya sampaikan karena Kurikulum yang dianjurkan oleh pemerintah adalah kurikulum yang menganut sistem ketuntasan belajar yang berarti Ujian Nasional seharusnya tidak perlu diadakan untuk menentukan kelulusan siswa.Karena ada dua kepentingan yang berbeda ,Ujian nasional menurut pejabat dilingkungan kementrian Pendidikan digunakan sebagai wahana untuk menaikan standar kwalitas pendidikan,dilain fihak pada lembaga penyelenggara Pendidikan tidak akan sampai pada kwalitas standar pendidikan tetapi mengejar agar anak didik yang diasuhnya banya yang berhasil dalam menmpuh UN.Berkaitan dengan hal ini maka sering dikatakan menghalalkan segala cara yang penting anak didiknya sukses.Demikian dinas yang terkait juga akan merasa senang jika tingkat kelulusan di daerahnya meningkat secara signifikan.Ketidak beresan usaha untuk dapat meluluskan UN anak didik sebagai contoh diadakanya bedah SKL ,ini secara tidak langsung sudah membocorkan bahan Ujian ,apa gunanya kurikulum jika sebelumnya guru dan siswanya sudah mengetahui bahan yang akan diujikan.Sebagai seorang guru yang jeli tentunya tidak perlu memperdalam kompetensi yang tidak teruji dalam Ujian Naisonal,lebih baik membuat bahkan mencari soal-soal yang sesuai dengan SKL saja.

Dengan trik –trik seperti tersebut diatas apakah dapat dikatakan bahwa standar kwalitas pendidikan meningkat secara baik,atau menurun secara baik.Sebagai seorang tenaga pengajar bukan pendidik menyatakan bahwa hasil UN tidak dapat mencerminkan nilai peningkatan kwalitas pendidikan di Indonesia dengan kata lain merupakan hal yang semu dan palsu.

Jika semuanya berjalan seperti garis kurikulum yang telah disepakati secara Nasional,maka sebaiknya Hasil UN hanya digunakan untuk menentukan standar mutu /kwalitas pendidikan bukan digunakan untuk menentukan lulus dan tidaknya peserta didik.Hal ini akan memungkinkan trik-trik jahat dari kalangan dunia pendidikan akan hilang dengan sendirinya.Tidak perlu adanya kepengawasan dari lembaga lain dalam penyelenggaran Ujian Nasional seperti berjalan selama ini.Sebagai seorang guru merasakan betapa pedihnya harga diri saat adanya penyelenggaran ujian nasional,karena dari lembaga lain diterjunkan ikut memantau penyelenggaraan Ujian ,rasa-rasanya kita sebagai guru menjadi seolah pesakitan atau penjahat yang perlu diawasi gerak-geriknya.Disamping itu honor kepengawasan jauh lebih kecil dibanding honor seorang pemantau.

Sebagai kesimpulan diharapkan penguasa dan pengambil kebijakan di negara ini yang terkait dengan dunia pendidikan perlu mawas diri dan kembali pada garis-garis kurikulum yang telah disepakati , bertindak bijak dan konskwen merupakan tindakan yang terpuji dan akan membawa kedamaian , keadilan  serta kemakmuran dibidang apa saja. Sementara itu kebijakan apapun yang bertendensi ambisi,emosi dan harga diri pribadi akan menghadirkan malapetakan bagi dirinya dan bagi masyarakat banyak pada umumnya.

 

 

 

Tentang bopong

saya penggemar budaya jawa saya guru SMA saya senang menulis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s