Andaikan

ANDAIKAN

Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional yang bicara tentang Pendidikan adalah orang-orang besar orang ternama,ahli –ahli pendidikan ,sedangkan masyarakat awam sekedar mendengar ataupun membaca apa yang diobrolkan oleh orang-orang tersebut.Masmedia saja selalu memihak pada orang-orang terkemuka ,kapan orang kecil diberi kesempatan untuk bicara masalah pendidikan semoga hal ini menjadi perhatian.

Kali ini ku coba untuk ikut bicara masalah pendidikan di Indonesia dengan bahasa ala kadar karena memang tak pernah dapat menulis dengan sistematika yang benar.Tulisan ini ku buat dengan dasar kenyataan yang terjadi dalam masyarakat kalangan bawah yang selalu terkena sasaran.Sebagai kiasan selalu ku awali dengan kata Andaikan.

Andaikan aku jadi murid.

Aku tidak akan mempelajari seluruh ilmu yang disajikan oleh guruku , karena mata pelajaran yang tidak diikut sertakan dalam Ujian Nasional yang akan membuat konsentrasiku terpecah sedangkan perolehan nilai dari guruku tidak mungkin membunuh nasibku manakala hasil Unku baik .Dalam hatiku aku sering bertanya katanya Negara ini melarang berjudi dalam bentuk apapun , mengapa setiap ulangan dan ujian aku selalu dilatih untuk berspekulasi ,soal yang ku kerjakan disajikan dalam bentuk pilihan ganda yang berarti hanya memilih opsion manakah yang ku suka.Kalau begini terus menerus mungkin orang pasar saja dapat mengerjakan dengan lebih cepat dan kemungkinan hasilnya malah lebih baik.

Peristiwa senada pernah terjadi pada teman sekelasku ,ia paling bodoh disekolah nilainya setiap ulangan tak pernah mendapatkan nilai sampai batas tuntas, tetapi saat Ujian nilainya justru mendapatkan rangking teratas.Akupun bertanya langsung pada dia apa yang ia lakukan saat mempersiapkan ujian.Pertanyaan ini dijelaskan bahwa ia hanya tekun berpuasa dan banyak melakukan sholat malam.Memang dalam hati aku sangat iri dengan perolehan nilainya sebab tidak sesuai dengan kenyataan sehari-hari namun apa dikata sesuatu memang begitu.

Jika ku pikir lebih jauh sepertinya sekolah di tingkat sekolah menengah memang banyak menyita waktu saja sebab perolehan hasil akhir tak menentukan aku dapat melanjutkan di Perguruan Tinggi ,sebab sampai sekarang Ujian masuk Perguruan Tinggi tetap menggunkan standar berbeda , nilai ujianku baik percuma saja ,aku tetap harus belajar lagi saat mau masuk Perguruan Tinggi dalam rangka mengikuti Tes Masuk Perguruan Tinggi.

saat ini kurang memperhatikan karakter anak didik ,sehingga karakter anak didik selalu dianggap tidak baik alias jahat.Karakter yang bagaimana sih yang dikehendaki oleh orang-orang itu.Boleh dikatakan bahwa karakter harus begini begitu tetapi apa yang kuperhatikan saat ini tidak ada contoh yang dinamakan baik dan benar di Negara ini. Orang yang ada didepan setiap lembaga resmi maupun tidak resmi  tidak patut di contoh oleh generasi penerus hal ini bukti bahwa apapun karakter yang dikehendaki jika contoh penerapan di Negara dan Masyarakat tidak menunjang sama sekali.

Andaikan aku seorang guru

Jika profesiku sebagai guru mungkin aku jadi bingung sendiri sebagai ujung tombak dunia pendidikan ,karena era ini guru difokuskan untuk tugas mengajar saja alias tukang mengajar yang tugasnya disunati terus menerus .Mengapa demikian karena tugas mengajar tidak sepenuhnya diserahkan pada guru terutama dalam menentukan nasib anak didik.Apalagi alih fungsi menjadi fasilisator ,motivator ,saat ini dunia komunikasi dan informasi sangatlah canggih sehingga untuk bersikap sebagai fasilisator mungkin mayoritas guru saat ini masih banyak yang ketinggalan karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Meskipun angin segar telah bertiup adanya sertifikasi ,tetapi perlu dimaklumi guru yang mendapatkan tunjangan dari sertifikasi kebanyakan guru yang sudah punya jam terbang cukup lama .Karena jam terbangnya sudah lama maka dibalik itu kebutuhan rumah tangga juga makin meningkat berkaitan dengan pendidikan anak-anaknya sendiri sehingga dana sertifikasi sudah masuk lobang untuk beaya pendidikan anak,sebagai akibat untuk mengadakan sarana berkaitan dengan proses pembelajaran sudah tidak tersedia .

Memang tuntutan –tuntutan yang mengeroyok seorang guru datang dari berbagai fihak,dari orang tua murid tentu menghendaki anaknya menjadi pintar yang dibuktikan bahwa ia dapat lulus ujian .Jika murid bersangkutan tidak lulus maka yang disilahkan tentu gurunya,tetapi jika lulus maka guru tidak pernah  mendapat sanjungan inilah nasibku yang ku terima sebagai warisan mbah-mbah guru jaman dulu.Tuntutan lain jelas berasal dari kelompok murid,mayoritas siswa setiap akhir semester dan akhir tahun tentu menghendaki nilai yang baik agar mampu naik kelas ,meskipun tidak dilandasi dengan kerajianan dalam mengikuti pelajaran.Sebagai seorang guru selama ini belum pernah mendapat protes karena nilai siswa terlalu tinggi ,tetapi yang protes karena nilai rendah tidak dapat dihitung lagi.

Yang lebih mengerikan lagi adalah tuntutan amdinitrasi.mungkin sebagai guru mapel tidak terlalu berat tetapi untuk guru kelas sepertiku wah tidak dapat kubayangkan aku harus membuat RPP semua mapel ,aku harus membuat evaluasi berikut semua mapel sehingga untuk menjadi guru yang profesional beneran aku belum mampu.Belum lagi tuntutan kegiatan sosial kemasyarakatan baik dirumah tinggal maupun masyarakat sekitar sekolah serba merepotkan .Jika aku tak mengikuti maka namaku sebagai guru akan tercoreng ,mungkin bukan aku sendiri tetapi seluruh guru akan tercoreng namanya.

Alhamdullilah tahun ini perlakuan pada guru saat mengemban tugas melaksanakan Ujian Nasional tidak seperti yang sudah berlalu.Sebelumnya saat seperti itu perlakuan terhadap guru seolah jadi seorang persakitan karena banyak lembaga yang turun kesekolah untuk memonitor pelaksanaan ujian .Jika dirasakan sangatlah pedih karena citra seorang guru jelas nampak tidak dipercaya lagi oleh lembaga negara yang lain.Sekali lagi syukur kepada Allah tahun ini sudah ada perubahan ,semoga kedepan lebih lagi dipercaya sehingga pengawasan cukup satu atap saja.

Jika aku jadi Kepala Sekolah

Setiap pimpinan suatu lembaga meskipun kalangan teras bawah termasuk kepala sekolah tentu akan menemui  suka duka yang silih berganti. Kapan suka dan kapan duka tergantung momen momen tertentu.Kepala sekolah akan merasa suka manakala anak didiknya lulus seratus prosen dalam menempuh ujian akhir sebab ujian merupakan puncak kegiatan belajar mengajar,bagaimanapun juga kepala sekolah merupakan tugas sampingan dari tugas pokoknya sebagai guru.

Kesukaan kedua manakala semua guru anak buahnya tertip dalam menjalankan tugas ,baik tertip aktivitas maupun tertip adminitrasi,syukur-syukur ada guru yang berprestasi ditingkat manapun.Kesukaan berikutnya manakala  dapat mejalankan instruksi dari atasan dan mendapatkan status sekolah meningkat dibanding keadaan yang telah dilewati.Masih ada rasa suka lagi manakala program yang dibuatnya mendapat persetujuan komite sekolah berikut semua anak buah.

Dibalik rasa suka tentunya ada pula rasa duka yang mungkin jumlahnya lebih banyak dibanding rasa suka.Aku sebagai kepala sekolah akan sedih sekali manakala anak didiku dalam menempuh ujian banyak yang masih belum lulus,anak buahku kerja sembarang alias tidak tertip sama sekali .Program-program yang kubuat selalu mendapat kanter dari anak buah lebih-lebih komite sekolah.

Tambahan rasa duka akan muncul manakala aku tak dapat melakukan aktivitas kemasyarakatan baik menyangkut aktivitas yang terjadi dikalangan guru maupun yang ada dilingkungan sekolah.Mengapa demikian ,sebagai kepala sekolah tentunya tidak sama dengan  guru yang lain dalam melakukan aktivitas kemasyarakatan apalagi menyangkut dana sumbangan yang harus dikeluarkan .Dengan kata lain sebagai kepala Sekolah harus siap tombok yang mungkin dikeluarkan dari saku sendiri.

Ada lagi yang dapat menjadikan rasa duka dan bingung manakala mendapatkan proyek dari pemerintah,karena tentu akan menyita waktu yang tidak sedikit baik pengawasan terhadap perjalan proyek maupun nantinya dalam membuat surat pertangguan jawab ( SPJ).Kalau akan ku buka celahnya dan mengikuti apa adanya ,maka sekolah yang ku pimpin tidak akan mendapatkan proyek berikutnya.Budaya keburukan dikalangan pejabat teras sering membuat diriku stress berat ,proyek yang besarnya tertentu dana yang ku terima mesti lebih kecil dari nominal uang yang tertera,kita harus mengenal budaya yang mengatakan bahwa jalan itu harus basah ( dalan kudu teles).Sedangkan SPJ yang ku buat harus sebesar catatan yang kuperoleh.

Sering aku tambah melamun manakala memikirkan program pemerintah yang mulai membuat kasta –kasta dalam lembaga kependidikan.Adanya sekolah RSKM ,RSBI,nilai akreditasi nya A , B dan C jelas  merupakan bentuk pengkotaan sekolah  yang justru dapat membuat perlombaan tidak sehat diantara lembaga sekolah.Rintisan Sekolah Berbasis Internasional justru dapat mengkacaukan pendidikan karakter bangsa dimasa mendatang karena pada sekolah ini hanya banyak ditekankan pada pendidikan keilmuan,sedangkan untuk pendidikan karakter dibutuhkan mapel-mapel terkait dengan kebangsaan .Kedepan mungkin akan tercetak manusia-manusia  yang pandai dan pintar tetapi tidak punya rasa kebangsaan yang kuat sehingga kemungkinan  besar akan membuat NKRI terpecah belah yang akhirnya akan hilang dari permukaan.

Jika aku jadi Menteri Pendidikan

Aku pingin meloncat jauh  dari kepala sekolah langsung menuju menteri , karena aku faham bahwa Kepala Dinas Pendidikan baik tingkat kabupaten / kota dan tingkat propinsi hanya merupakan kepanjangan tangan dari Menteri.Sebagai Menteri Pendidikan di Indonesia  aku akan merubah dasain dan seting pendidikan secara total.Mengapa demikian ,karena aku tahu bahwa saat ini dibutuhkan warga negara yang mempunyai karakter terpuji , punya rasa kebangsaan yang mendalam ,jika tidak maka di Negara ini selalu akan muncul pimpinan –pimpinan yang dolim yang sebenarnya cocok untuk menjadi pimpinan penjahat negara.

Penjahat-penjahat pandai akan sulit ditangkap dibandingkan penjahat-penjahat yang bodoh,penjahat yang pandai akan mencuri uang yang nilainya milyartan sedangkan penjahat yang bodoh paling-paling curi ayam.Hal yang demikian terjadi karena pola desain pendidikan hanya terfokus pada kemampuan otak kiri saja ,sedangkan otak kananya tidak pernah diasah dipertajam.

Jika aku jadi menteri biarlah warga negara Indonesia tidak begitu pandai tetapi mempunyai moral yang baik yang terpuji,hal ini perlu desain pendidikan yang mengutamakan pendidikan karakter bangsa.Hanya dengan begini warga negara Indonesia mendatang akan menjaga kesatuan dan persatuan yang kokoh berikut NKRI akan tetap masih utuh.

Desain pendidikan yang demikian akan tercapai manakala seting pendidikan kebarat-baratan dikembalikan menjadi desain pendidikan berwawasan budaya bangsa Indonesia sendiri,Indonesia bukan Amerika dan bukan pula Timur Tengah ,manusianyapun berbeda karakter sehingga jika dididik sesuai dengan pola pendidikan negara –negara tersebut sebenarnya hati nurani sudah mengkanter.

Kesimpulan akhir

Inilah renungan dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional semoga bermanfaat kepada setiap yang mau mebacanya ,sekali lagi mohon maaf manakala ungkapan ini tidak berkena pada pejabat-pejabat terkait. Tetapi bagaimanapun aku masih merasakan sebagai warga negara yang pingin peduli  terhadap dunia Pendidikan sehingga berani mengungkapkan rasa ketidak puasan hanya dalam bentuk tulisan saja.Dalam diriku tidak rela manakala NKRI hilang akibat salah desain pendidikan berlangsung terus menerus.

Kepada Yth,

Staf Redaksi Kedaulatan Rakyat

Di Yogyakarta

Assalamu’alaikum wr.wb.

Pada kesempatan ini saya kirimkan naskah yang berjudul Andaikan, isi dari uraian ini merupakan renungan dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional.Untuk selanjutnya saya serahkan sepenuhnya pada Staf Redaksi layak dan tidaknya untuk mengisi rubrik opini.

Penulis mempunyai Identitas sebagai berikut ;

1. Nama                       : Drs. Suhartono M.Pd

2. Pekerjaan                 : Guru

3. Unit Kerja               : SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang

4. Alamat                    : Jalan Tidar No.21 A Kota Magelang

Terima kasih atas perhatianya

Wassalamu’alaikum wr.wb

Magelang 2 Mei 2011

Penulis

Drs. Suhartono M.Pd

Tentang bopong

saya penggemar budaya jawa saya guru SMA saya senang menulis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s