KOTAK KOTAK TIDAK SEHAT

KOTAK-KOTAK TIDAK SEHAT PADA

LEMBAGA PENDIDIKAN

DI INDONESIA

Pendahuluan

Pada dekade ini pemerintah telah menciptakan kotak-kotak lembaga pendidikan (sekolah) yang tidak menyehatkan kesatuan dan persatuan bangsa.sepintas nampak adanya pengembangan baik terhadap keadaan lembaga dengan cara selalu diadakan semacam tingkatan lembaga itu melalui adanya akreditasi.Dari hasil akreditasi ini akan diperoleh sekolah dengan nilai A , B maupun C yang jelas merupakan bentuk pengkotakan ,lebih parah lagi setelah ddimunculkan adanya sekolah berbasis Internasional , sekolah kata gori mandiri dan sekolah standar.

Bagaimanakah respon masyarakat.

Pada umumnya orang-orang tuwa cenderung menginginkan anaknya dapat masuk disekolah dengan katagori paling tinggi, meskipun beayanya jauh lebih tinggi dibanding sekolah-sekolah yang mempunyai katagori dibawahnya.Respon yang demikian muncul dari golongan masyarakat yang punya kemampuan ekonomi lebih.Tapi bagaimana respon masyarakat dengan kemampuan ekonomi paspasan  tentunya sebaliknya ,mereka takut memasukan anaknya kesekolah tersebut karena faktor ekonomi bukan karena kemampuan anaknya.

Dengan demikian  dapat dikatakan bahwa dengan sengaja pemerintah telah membuat kelompok tidak sehat dalam dunia  pendidikan , anak-anak yang punya kemampuan  tidak mampu dilayani  untuk mengnyam pendidikan yang sebenarnya  dan yang selayaknya

Dampak terhadap SDM

Tenaga pendidikan dan kependidikan yang berada ataupun tugas  akan muncul keegoan ,mereka merasa lenih tinggi dibanding yang ada disekolah lain.Apalagi dengan sekolah yang predikatnya tinggi selalu diiring dengan pola peningkatan ekonomi semua .

Peningkatan SDM di sekolah predikat tinggi setiap saat selalu didapat oleh guru-guru yang mengampunya,sehingga menimbulkan kecemburuan bagi guru-guru disekolah yang ada dilevel bawahnya.Sabagai dampak yang muncul adalah kebersamaan ,keharmonisan  dan kekeluargaan guru sejenis menjadi hancur lebur.

Permasalahan semacam ini harap menjadi perhatian bagai seluruh pejabat yang mengendalikan kebijakan dalam dunia pendidikan.

Dampak terhadap anak didik.

Sama halnya dengan dampak terhadap tenaga kependidikan dan pendidikan ,anak didikpun terseting menjadi orang yang berego tinggi dengan  status lembaga yang di anak emaskan oleh pemerintah.Anak didik menjadi semakin sempit ruang pergaulan, waktunya banyak tersita hanya untuk urusan belajar saja.Memang tugas seorang pelajar harus belajar yang giat,namun keberhasilan pendidikan bukan berasal dari lembaga saja ,lingkungan pergaulan , lingkungan masyarakat ,lingkungan sosial sangat berpengaruh ,oleh sebab itu bagaimanapun juga pemerintah harus mampu merumuskan serta mendesain lembaga kekependidikan yang sempurna

Sebuah keganjilan

Dalam pelaksanaan Ujian nasional sampai saat ini belum membedakan bentuk soal antara yang dikerjakan oleh anak didik dari lembaga predikat tinggi dengan predikat rendah.Sebagai akibat wajarlah jika anak-anak yang berasal dari lembaga elit hasilnya sangat memuaskan , karena dalam proses pembelajaran selalu disertai dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai dibandingkan pada sekolah-sekolah katagori rendahan.

Cara merekrut anak didikpun dirasa tidak lagi menganut kebersamaan  dengan sekolah-sekolah yang lain.Mereka diberi kesempatan untuk mendahului penerimaan siswa melalui tes tersendiri.Sehingga masuk akalah bahwa mereka akan mendapatkan siswa yang basic sudah baik , sementara sekolah-sekolah lainya hanya mendapatkan sisa seadanya.

Keberhasilan pembelajaran oleh pemerintah hanya dilihat oleh hasil akhir saja,sehingga setiap akhir tahun selalu dinyatakan bahwa sekolah tersebut mendapatkan predikat yang selalu baik dan di atas.Jika pemerintah mau adil dan bijak seharusnya penilaian  diawali dengan  nem saat masuk yang kemudian dibandingan dengan nem saat Ujian.Apakah dapat dinyatakan jika nem saat siswa masuk delapan ,kemudian nem hasil ujian juga delapan secara statistik jelas dinyatakan mengalami stanasi dengan kata lain tidak terjadi peningkatan hasil .Sebaliknya disekolah-sekolah rendahan  nem masuk anak didik rendah misalnya enam dan hasil ujian akhir mendapatkan tujuh ,hal seperti ini tidak salah jika dikatakan  anak  berhasil meningkat.

Saran Pembenahan

1.Perlu dikaji ulang tentang model menentukan predikat lembaga pendidikan,karena jika dilanjutkan dapat menimbulkan  pengkotaan ( mengkastakan ) lembaga pendidikan.

2.Jika masih dipertahankan ,sebaiknya model soal ujian harus dibedakan antara sekolah predikat tinggi dengan yang berpredikat rendah agar hasilnya mempu mencerminkan secara nyata keberhasian anak didik.

Tentang bopong

saya penggemar budaya jawa saya guru SMA saya senang menulis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s