Terjadinya jagad raya

Terjadinya Jagat Raya

Budaya Kejawen menamakan jagat ini adalah Jagad Paramudita, seperti yang sering diucapkan para dalang wayang kulit.Artinya jagat yang dihuni oleh para mudita, oleh manusia wanita dan pria, mahluk paling penting didunia ini.

Jagat Raya seisinya termasuk manusia yang mendiami bumi ini, tercipta atas kuasa Tuhan, Sang Pencipta Alam. Keberadaan manusia dibumi, setelah iklim dan kondisinya kondusif, siap untuk dijadikan rumah tinggal yang nyaman, lengkap dengan segala faktor pendukungnya.

Pada era mudita, orang mulai memberikan nama-nama pada semua benda dan hal, lahirlah bahasa tutur didunia. Oleh karena itu mudita dihormati oleh anak keturunannya.

Asalnya ramai dari sepi

Kehidupan bumi yang dihuni para mudita berkembang secara pasti. Tentu pada saat itu, para mudita memilih menghuni tempat-tempat yang aman dan tanahnya subur. Jumlah mudita dengan beragam warna kulit, budaya dan bahasa, semakin bertambah, sehingga bumi menjadi lebih ramai. Timbullah ungkapan : Witing rame saka sepi, witing gumelar saka sonya, artinya : Asal ramai dari sepi,jagat tergelar asalnya dari kosong.

Kita akan mengungkap kelahiran dan perkembangan jagat ini dimulai dari Alam Sonya Ruri, sebelum jagat ini tergelar.Pengungkapan dari sudut pandang Kebatinan Jawa, dari sudut pengetahuan spiritual- spiritual knowledge, yang istilah lokalnya adalah elmu atau ngelmu

Para pakar dunia, menjelaskan proses terjadinya alam raya dari sudut science – ilmu pengetahuan, secara ilmiah.

Perlu digaris bawahi bahwa Kejawen tidak anti kepada ilmu dan perkembangannya yang berguna bagi umat manusia; tetapi untuk kehidupan yang lebih baik, komplit dan benar, lahir batin, diperlukan ilmu dan ngelmu.

Kita luangkan sedikit waktu untuk memahami difinisi tentang Ilmu dan Ngelmu dalam kotak dibawah ini.

Ilmu dan Ngelmu

Ilmu    – Science adalah hasil pikiran manusia, yang semakin lama semakin maju, produknya semakin canggih sebagai hasil pemikiran/penemuan para ahli pikir bidang ilmu pengetahuan.

Ngelmu– Satu pengetahuan yang berhubungan dengan purbawasesa – Kuasa dari Tuhan, yang oleh kebanyakan orang disebut gaib.Ngelmu itu dari dulu sudah ada secara utuh dan sepenuhnya dalam kuasa Gusti. Dibukanya sedikit demi sedikit, sesuai dengan kemajuan kesadaran dan kebutuhan manusia pada suatu saat.

Penjelasan dan penyebaran – babaran lan wedaran, atas kehendak Gusti, melalui orang-orang yang ditunjuk Nya, karena sudah mumpuni pengetahuan dan kesadaran spiritualnya.

Sehingga, semakin lama, ngelmu semakin terbuka – saya binuko lan ngeblak.

Catatan :
Mengenai cara pengajaran dan penyebaran kebatinan Kejawen, pada saat ini sudah jauh lebih terbuka, lebih praktis.

Zaman dulu, ngelmu Kejawen benar-benar sinengker, dianggap rahasia, terkesan tertutup. Hanya kepada yang benar-benar percaya dan belajar sungguh-sungguh dan menghayati, seorang Guru akan memberi tuntunan.

Polisi kolonial Belanda waktu itu mengawasi dengan ketat kelompok-kelompok Kejawen, karena dikhawatirkan menyebarkan ramalan Jayabaya, yang a.l. menyatakan bahwa kolonialis Belanda akan dikalahkan oleh “jago wiring kuning” dari utara, bangsa berkulit kuning dari utara ( ternyata Jepang), yang akan menduduki Nusantara selama “seumur jagung”, dalam kurun waktu pendek ( ternyata 3,5 tahun). Dan bangsa Indonesia akan hidup makmur sejahtera bila diperintah oleh bangsa sendiri, artinya Indonesia merdeka..   Kolonialis Belanda juga melarang orang bertapa karena takut kalau orang tersebut mencari wahyu kemerdekaan.

Banyak terminologi atau kata-kata yang diperlakukan sakral, tidak boleh diucapkan, tabu atau ora ilok, kini telah boleh diucapkan.
Misalnya,  pada waktu belajar kebatinan tidak boleh mengucapkan kata jantung. Kalau mau menyebut jantung, harus bilang : kembang gedhang atau sekar pisang, bunga pisang. Sekarang sudah boleh mengucapkan jantung.

Kata samadi juga tidak boleh diucapkan. Kalau mau bilang samadi harus diganti dengan ungkapan :

Anggoleki tapake kuntul nglayang   – mencari telapak kaki bangau terbang. Mana dapat.
Anggoleki galihing kangkung          – mencari hati kangkung. Apa ada?
Nutupi babahan hawa sanga          – menutup sembilan lobang hawa ditubuh.Tentu sulit.
Kalimat-kalimat yang berbunga-bunga yang mungkin sesuai pada waktu itu, sekarang termasuk “njlimet”-berputar-putar dan sulit dipahami, tidak dipakai lagi.

Penjelasan tentang samadi, termasuk cara, metode dan tujuannya, sudah jauh lebih terbuka.

Cara mengajarkan ngelmu Kejawen juga sudah berubah sesuai perkembangan zaman.

Dulu ,Kejawen diajarkan sangat tertutup, dengan peserta sangat terbatas dan hanya diajarkan pada malam hari, dihari tertentu, misalnya pada Kamis malam Jum’at.

Tempatnya juga harus diluar rumah, dibawah atap langit, dipinggir laut, sungai, sawah, kebun atau pelataran rumah. Sekarang sudah diajarkan didalam rumah, boleh siang hari.

Literatur Kejawen banyak yang ditulis, dicetak sebagai buku, dimuat dikoran dan majalah, bahkan ada di internet.

Dimasa kuno, pembelajaran hanya secara lisan, mantra-mantra tak boleh ditulis, semua harus hafal diluar kepala.

Sekarang sudah terbuka, meski masih ada yang sinengker– dirahasiakan.

Para pakar kebatinan Jawa mengatakan bahwa semua ngelmu kebatinan Jawa boleh diketahui oleh peminatnya sesuai dengan tingkat kesadaran spiritual masing-masing individu, kecuali yang masih menjadi sengkeraning bawono – rahasia jagat.

Penulis yang akrab dengan budaya Jawa dan senang mempelajari budaya-budaya yang lain, mengikuti paugeran– ketentuan ini. Apa yang penulis paparkan adalah ajaran luhur dan sudah dapat palilah, restu dari pinisepuh Kejawen, maupun dari Pribadi Sejati- Higher Self, baik secara nyata maupun melalui wisik sejati– pemberitahuan yang sebenarnya, ditataran ngelmu sejat, dijalan yang diberkahi Gusti.


Alam Sonya Ruri

Sekian juta tahun yang lalu, ketika alam belum ada, bumi belum ada, tidak ada apa-apa sama sekali, suasana gelap gulita, suara tidak ada, disebut Alam Sonya Ruri, artinya tempat tanpa batas, tanpa tepi dan sonya artinya kosong, sepi ( bahasa Jawa : suwung) dan ruri artinya gelap gulita ( bahasa Jawa : peteng ndhedhet).

Alam Sonya Ruri adalah tempat tanpa batas, yang keadaannya kosong tanpa suara dan gelap gulita.

Gambarannya : alam merupakan wadah; isinya : kosong dan gelap gulita.

Kemudian, tidak disebut kapan mulainya, alam sonya ruri mulai bergerak, berputar dan berputar terus dengan cepat. Perputaran itu menimbulkan daya panas, mulai muncul lingkaran ( bahasa Jawa : kalangan), yang semakin lama semakin besar.

Sesudah berputar terus menerus dan cukup lama ( bahasa Jawa : mubeng seser), terjadilah ledakan ( bahasa Jawa : mbledhos), sehingga alam semesta menjadi terang dan mulai terbentuk dan terlihat wujud benda-benda dialam raya : langit dan planet-planet seperti matahari dan bintang-bintang.

Teori  ilmiah menyatakan bahwa Jagat Raya ada sejak 15.000. juta tahun yang lalu, dimulai dengan Big Bang, ledakan awan lemparan gas panas dan debu diangkasa, lalu ada gravitasi yang menyebabkan terbentuknya planet-planet.

Sampai kini ilmu dan ngelmu sependapat bahwa jagat raya terus mengalami proses perkembangan yang tak pernah berhenti.

Mengenai teori ilmiah mengenai terbentuknya jagat raya, Ilmu Pengetahuan yang terlahir dari kejeniusan pikiran manusia, tidak bisa meng-claim sebagai kebenaran, paling-paling mendekati kebenaran.

Jagat Raya dicipta oleh Gusti, Tuhan Yang Maha Kuasa, supaya manusia selalu belajar dan tidak pernah berhenti belajar dan supaya berkiprah positif konstruktif demi kelestarian jagat beserta seluruh isinya termasuk umat manusia

Sang Penguasa Alam menitahkan terang

Dalam istilah Kejawennya adalah : Kang Murbeng Alam nitahake pepadhang.

Cahaya terang benderang dialam raya timbul karena perputaran benda-benda dilangit dan bintang-bintang. Cahaya datang dari benda-benda dilangit yang jumlahnya sakirno dalam istilah Jawa, artinya sejuta juta juta, begitu banyak tak terhitung jumlahnya.

Matahari, sesuai dengan kekuasaan alam, atas kehendak Tuhan menerangi jagat termasuk bumi dan punya kewajiban untuk memberi kehidupan kepada semua mahluk.

Rembulan dan semua bintang dilangit ,pada waktu malam hari menyinarkan cahaya yang lembut, sejuk ,yang berguna untuk setiap mahluk.
Konstelasi matahari, rembulan, planet-planet dan bintang-bintang terhadap bumi, mempengaruhi iklim dan kehidupan manusia dibumi.

Terbentuknya Bumi

Ketika planet-planet dan bintang-bintang angkasa sudah ada, bumi belum ada. Baru sesudahnya, ketika saling benturan dan saling pengaruh planet-planet dan bintang-bintang berjalan cukup lama diangkasa raya, terbentuklah sebuah bintang berukuran menengah menjadi pusat alam, yang disebut Pratala, artinya dasarnya samudra.

Terbentuk dulu laut, samudra yang disebut Sagara, karena terus menerus diisi air dari hasil gerakan terus menerus benda-benda dialam raya.

Sesudah terbentuk sagara, bumi mulai terbentuk setelah melalui proses alami dan penyempurnaan bentuk, sehingga disebut Bantala atau Bumi.

Proses pembentukan bumi secara pemahaman ilmiah dimulai 4000 juta tahun yang lalu, dilukiskan dengan letusan-letusan gunung berapi yang memuntahkan lava merah menyala. Bumi yang terdiri dari lempengan-lempengan dan samudra-samudra besar, melalui proses jutaan tahun sehingga terwujud bentuk yang seperti saat ini.

Elemen-elemen bumi

Sejak awal terbentuknya jagat, melibatkan unsur-unsur angin, cahaya, api, debu dan air, yang dengan saling interaksi, gerakan dan benturan-benturan melahirkan planet-planet, bintang-bintang dan planet bumi yang kelak didiami manusia.Seperti diketahui elemen-elemen  manusia juga terdiri dari : angin, banyu , geni lan lebu menurut Kejawen, yaitu angin, air, api dan tanah. Sedangkan unsur cahaya, mengingatkan dari mana asalnya suksma yang berupa cahaya.

Pada mulanya, keadaan dibumi belum mendukung adanya kehidupan karena  udara yang belum cocok. Baru sesudah udara dan keadaannya kondusif, manusia dan mahluk-mahluk lain bisa hidup dibumi, yaitu dilapisan atmosfir yang berada ditanah sampai dengan ketinggian 17 km.

Adanya makanan

Manusia dan mahluk-mahluk yang lain butuh makanan untuk hidup dibumi. Salah satu elemen manusia adalah air. Terbukti seorang manusia yang sehat pada usia produktif, 80% komponen badan fisiknya adalah air. 2/3 ( dua pertiga) dari permukaan bumi ditutup oleh lautan; 1/10 ( sepersepuluh) permukaan bumi ditutup sungai es.

Sejak mula terbentuknya bumi, air mengucur kebumi, air dimasa mula itu dinamakan Kamandanu, sesudah jatuh kebumi dan kebanyakan berkumpul dilaut, disebut Padmasari, artinya sari makanan.

Oleh karena itu sel-sel kehidupan yang teramat sederhana dimulai dilaut, karena disana ada sari makanan.

Jagat Raya adalah bersatunya unsur-unsur Pratala/Sagara, Padmasari/sari makanan dan Bantala/bumi, yang terus berproses dan saling mempengaruhi dengan benda-benda dialam semesta, sehingga datang saatnya manusia dan mahluk-mahluk lain serta berbagai tetumbuhan mendapatkan tempat yang nyaman dibumi untuk dihuni.


Kandungan bumi

Ini yang disebut kekayaan alam, benda-benda yang terpendam didalam bumi ( termasuk yang dibawah laut), dimana manusia tinggal menggali atau menambangnya untuk memfasilitasi kebutuhan hidupnya.

Selain tanaman pangan, herbal untuk obat dan tanaman industri, berbagai bahan tambang didarmakan oleh bumi kepada manusia. Betapa baiknya Ibu Bumi, Mother Earth kepada manusia.

Kalau mau jujur, manusia modern seharusnya merasa berhutang budi kepada mahluk-mahluk dan tetumbuhan dimasa purba, berhutang budi kepada alam dan tentunya kepada Tuhan.

Hanya sedikit orang yang mengingat kepada jasa fosil-fosil binatang laut dan pohon-pohon raksasa yang sejak 300 juta tahun lalu “ mengorbankan diri’ untuk dijadikan sumber enerji berupa minyak bumi, gas dan batubara.

Padahal produk-produk ini, diburu, diperebutkan dan dimanfaatkan untuk mengabdi kepada manusia modern.
Selain itu didalam bumi antara lain masih terdapat berbagai batu, mineral, pasir, kapur  dan lain-lain yang menunjang kesejahteraan manusia. Masih ada lagi berbagai logam seperti ; emas, perak, tembaga, perunggu, besi, aluminium, timah dsb.

Selain itu ada rumpun batu mulia dengan berbagai macam faedah dari harga yang sangat mahal sampai yang murah, seperti : berlian, quartz, ametis, turqoise, safir, emerald, jade, turmalin, citrin, amber, ruby,tiger’s eye, obsidian, agate/ bermacam-macam batu akik dalam berbagai warna yang indah dan menarik seperti putih, ungu, biru, hijau, merah muda, kuning, jingga, merah, coklat dan hitam.

Khusus mengenai logam dan batu mulia/gemstones/precious stones ada banyak peminatnya, karena bisa dicipta menjadi perhiasan dan asesories yang menawan.

Berbagai logam dipakai untuk membuat keris, berbagai batu mulia selain dibuat perhiasan yang cantik seperti gelang, kalung, cincin, subang dll, juga
digemari oleh orang-orang yang mengerti dengan memanfaatkan daya alami batu-batu mulia tersebut.

Batu mulia memiliki daya alami, enerji yang bisa dimanfaatkan untuk membantu pemakainya.

Enerji yang dipunyai batu mulia, bisa membantu dalam bidang keselamatan, kesehatan, karier, kesejahteraan dll.

Perhiasan dari gemstones termasuk berlian, safir, topaz, emerald, jade dan lain-lain, hanya bersifat perhiasan/asesories yang indah tetapi tidak memfungsikan daya alaminya untuk membantu pemakai, selama daya alami/enerjinya tidak dibangkitkan. Jadi perhiasan dengan batu mulia itu hanyalah “ sleeping beauty”.sekedar menampilkan keindahan.

Supaya enerji batu mulia berfungsi, bekerja dengan membantu atau melindungi pemilik/pemakainya; batu mulia tersebut harus dibangkitkan enerjinya ,istilahnya “diprogram” sesuai dengan fungsi alaminya.
Batu-batu itu, tidak “diisi” dengan menempatkan mahluk halus/qodam ( meskipun bisa), tetapi hanya dibangkitkan daya alaminya, supaya tidak tidur.

Untuk itu diperlukan bantuan “programmer” yang mumpuni, yang akrab dengan esensi batu-batu mulia dan itu akan terjadi dengan berkah Tuhan .
Website Jagad Kejawen akan membicarakan lebih jauh mengenai batu mulia, untuk membantu peminat.

Tingkatan Ngelmu dalam Kejawen

Telah diuraikan bahwasanya Kejawen selain berarti Kebatinan/Spiritualitas Jawa,juga mencakup aspek-aspek budaya dan filosofi Jawa seperti :

1.    Tradisi dan Ritual
2.    Tata krama, tata susila
3.    Sikap dan perilaku kehidupan yang dipandu oleh Budi Pekerti
4.    Hal-hal yang dikategorikan sebagai supranatural
5.    Tataran tertinggi adalah Ngelmu Kasampurnan atau Kebatinan atau Spiritualitas.

Seorang tradisional Jawa yang dibesarkan dan dididik secara tradisional ditanah Jawa, sejak kecil mengikuti pola jalan kehidupan yang ditanamkan oleh orang tua , leluhur dan masyarakat untuk selalu berpegang kepada budi pekerti luhur, tata krama, tata susila, hormat kepada orang tua dan pinisepuh dan diatas segalanya selalu mengagungkan Gusti, Sing Gawe Urip lan Nguripi- Tuhan, Yang Membuat Hidup dan Menghidupi.

Ngelmu Kasampurnan

Ngelmu Kasampurnan adalah Kebatinan atau dalam pengertian universal disebut spiritualitas, istilah lainnya: Ngelmu Sejati atau Kasunyatan.Orang yang mempelajari spiritualitas adalah orang dewasa yang telah matang jalan pikirannya. Orang yang masih senang menggeluti kenikmatan yang melulu bersifat keduniawian seperti masih menumpuk harta kekayaan berupa materi, mencari posisi kekuasaan yang memberi kepuasan duniawi, tentu tidak atau belum tertarik kepada spiritualitas atau Ngelmu Kasampurnan.

Seseorang biasanya akan mulai tertarik kepada spiritualitas atau mulai memahaminya bila kehidupannya mulai tenang, sudah imbang, sudah balance pemahaman hidup duniawi dan spiritual.

Manusia sudah berada dalam tingkat kesadaran bahwa hidup didunia ini selain berurusan dengan kehidupan duniawi yang benar dan baik, juga ada kehidupan spiritual yang harus difahami.Apalagi dia tahu benar bahwa hidup didunia ini relatif tidak lama. Sebaiknya dia bersikap bijak dan lalu mulai menapaki kehidupan spiritual yang akan mengantarkannya kemasa mendatang yang terjamin dibawah naungan Gusti, Tuhan Sang Pengatur Kehidupan Sejati.

Tingkatan Ngelmu sebelum Ngelmu Kasampurnan

Orang tradisional Jawa mengetahui, apalagi dimasa lalu, bahwa dimasyarakat dikenal ada orang-orang tua/ dituakan yang disebut Wong Tuwo, Wong Pinter, Priyayi Sepuh atau Guru Kebatinan atau Guru Ngelmu yang memberi tuntunan pelajaran kebatinan kepada murid-muridnya atau anggota paguyubannya. Selain mengajari spiritualitas kepada orang-orang yang berminat, seorang Priyayi Sepuh juga sering dimintai tolong oleh siapapun yang butuh bantuannya dalam berbagai bidang yang pelik dalam kehidupan ini.Pertolongan  itu diberikan dengan ikhlas, tanpa menarik beaya. Inilah beda antara Guru Laku/Priyayi Waskita/Sepuh dengan praktek paranormal atau psychic yang menarik bayaran untuk bantuan yang diberikannya.

Untuk orang Jawa tradisional, sebelum orang  belajar ngelmu yang tertinggi yaitu Kasampurnan atau Kebatinan , ada yang terlebih dahulu mempelajari pengetahuan supranatural yang tingkatannya dibawah Spiritualitas, Ngelmu Kasampurnan, tingkatannya sebagai berikut :

Kanoman

Kanoman dari kata dasar, nom, anom, enom artinya muda. Maka kanoman biasanya diartikan sebagai “ ngelmu muda” untuk anak muda, sedangkan “ngelmu sepuh” untuk orang dewasa.

Pada masa lalu ( termasuk ketika penulis masih remaja disekitar tahun 1955- 1960) ada beberapa remaja Jawa tradisional yang jalan kehidupannya sangat dipengaruhi oleh atau bahkan menyatu dengan lingkungan alam dan sikap dan kebiasaan hidup masyarakat disaat itu yang tertarik untuk ikut menjalani olah/latihan kanoman.

Mayoritas anak muda berpikiran dan berperilaku positif, sikap hidupnya dituntun oleh panduan Budi Pekerti dan sangat percaya kepada kekuasaan tertinggi dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lingkungan kehidupan dan alam sekitarnya membuat mereka lebih peka terhadap adanya hal-hal yang tidak terlihat tetapi sebenarnya ada, bahwa ada dimensi lain yang dikatakan gaib dalam kehidupan ini.
Suara hati berkata supaya kehidupan didunia ini berjalan baik-baik saja, tidak ada yang suka berbuat jahat kepada pihak lain. Tetapi kenyataannya tidak begitu, dari masa dahulu, watak dan perbuatan jahat sudah ada. Ada orang yang senang menonjolkan diri, memikirkan dirinya sendiri dan berbuat untuk kesenangan dan keuntungan dirinya.

Berbagai macam jenis dan tindak kecurangan, kelicikan, kejahatan yang kentara dan tidak kentara, kriminalitas kecil-kecilan sampai klas kakap pada kenyataannya mewarnai kehidupan didunia ini.

Pada dasarnya, anak muda terpanggil untuk berbuat baik, menegakkan kebenaran. Dari cerita wayang, legenda kuno, dari dulu selalu terjadi pertempuran antara yang baik melawan yang jahat dan pada akhirnya setelah melalui perjuangan panjang yang baiklah yang menang.Untuk mencapai kemenangan haruslah ada usaha yang tekun dan rajin, disertai sikap pantang menyerah untuk antara lain berlatih dan belajar meningkatkan kemampuannya dalam seni bela diri.

Pada jaman kuno, anak-anak muda belajar dengan cara nyantrik di padhepokan, berguru kepada seorang guru yang mumpuni. Diperguruan  ditanamkan pelajaran-pelajaran seperti Budi Pekerti, Pengetahuan Umum, Kanuragan dan hal-hal yang mengarah ke Kebatinan.

Guru yang menentukan tingkat pelajaran dari siswa, berdasarkan pengamatan dan penilaiannya terhadap kemampuan setiap siswa.
Pada prinsipnya guru hanya menerima siswa yang berwatak baik dan sungguh-sungguh punya niat untuk belajar.

Persyaratan yang ditentukan  adalah : Berwatak satria artinya punya rasa tanggung jawab, berani karena benar, jujur, punya rasa welas asih kepada sesama, hormat kepada guru dan sanggup menjunjung nama baik perguruan.

Sambil melakukan pekerjaan praktis setiap harinya untuk menunjang kehidupan di padhepokan seperti : bertani, berkebun, berternak, mengambil air, membersihkan rumah dan halaman; para siswa juga belajar ilmu dan ngelmu sesuai dengan tingkatnya.
Selain tetap diajarkan Budi Pekerti, tata krama, tata susila untuk pergaulan dimasyarakat,diajarkan pula pengetahuan umum dan berbagai ketrampilan untuk bekal menunjang keperluan hidupnya dikelak kemudian hari. Salah satu pelajaran dan pelatihan yang penting adalah olah supranatural yang sesuai dengan klasnya, untuk para muda dilatih dengan kanuragan.

KANURAGAN

Dalam kanuragan yang dilatih, ditatar adalah raga, sehingga orang yang mempelajari dan mempraktekkan kanuragan  menjadi kuat dan bahkan dibilang sakti karena dia menjadi antara lain kuat menerima pukulan, tidak mempan senjata tajam , tembakan peluru dan sebagainya.
Kanuragan biasanya diminati oleh golongan muda, setelah mereka melihat dan mengalami hasilnya yang menakjubkan, mereka menjadi lebih percaya kepada hal-hal yang bersifat supranaturalis.

Untuk orang-orang tertentu kelebihan positif dari kanuragan, membuat mereka ingin mempelajari juga Kebatinan / Spiritualitas.

( Seingat penulis, sejak tahun 1950-an, anak muda yang belajar ngelmu Kanoman termasuk Kanuragan tidak mempelajarinya di Padhepokan seperti jaman kuno,  tetapi cukup belajar dan dilatih oleh seorang guru pada saat-saat tertentu seperti layaknya sekolah atau kursus saja).

Kanuragan selain belajar seni bela diri terutama untuk mempertahankan diri bila diserang, juga untuk berlaga, menyerang lawan.

Selain itu siswa juga mulai diberi ajaran yang berupa mantra atau aji-aji untuk keselamatan, untuk memayungi diri dari segala macam gangguan fisik dan non-fisik.

Semakin dewasa umur seseorang dan juga cara berpikirnya, dia menjadi lebih sabar, lebih mampu mengendalikan diri, maka secara alami dia akan lebih memilih penggunaan mantra-mantra keselamatan atau karahayon dari pada aji-aji kanuragan.

Contoh ekstrim : Seorang petugas keamanan yang masih muda, sangat bangga bahwa peluru yang ditembakkan kepadanya oleh musuh tidak mampu menembus badannya, dia kebal, anti peluru. Dia senang dikagumi oleh rekan-rekannya, ditakuti para penjahat. Sedangkan seorang petugas yang lebih tua, lebih bijak, dia lebih senang bila senjata yang ditembakkan kepadanya, tidak bisa meletus, sehingga dia aman. Petugas lain yang lebih tua akan lebih senang , bila musuh dan penjahat menyingkir darinya.

KADONYAN

Tingkat selanjutnya adalah supaya selamat, makmur, bahagia dalam menjalani kehidupan ini. Pada tingkatan ini biasanya orang telah hidup berkeluarga.Orang Jawa tradisional bilang supaya hidup wajar, cukup sandang, pangan, papan dan tentunya berbagai keperluan lain yang esensial seperti menyekolahkan anak, kesehatan, sekadar tabungan dsb.

Sebagai layaknya orang berumah tangga, punya anak, dia akan berusaha untuk punya pekerjaan atau usaha yang bisa mencukupi dengan baik kebutuhannya bersama keluarga. Untuk itu selain harus punya kemampuan dan ketrampilan, juga diperlukan laku prihatin  dengan permohonan kepada Tuhan dan juga disertai amalan/mantra yang sifatnya Kadonyan – keduniawian untuk menaikkan derajat, pangkat dan semat – kedudukan, kekuasaan dan kekayaan.

Jalan kehidupan aktif bekerja, berkarya,setelah menyelesaikan sekolah dan mulai bekerja dan kemudian berumah tangga, punya anak-anak, lalu mendidik, membesarkan dan mengentaskan anak-anaknya, itu merupakan suatu perjalanan panjang dari kehidupan seseorang didunia ini, berkisar sekitar 25 sampai 30 tahunan. Selama kurun waktu itu, belum tentu segalanya berjalan mulus, kadang-kadang ada gejolak, itulah romantika kehidupan. Keterlibatan orang dalam Kadonyan- kehidupan duniawi menyita banyak waktu, bahkan sebagaian terbesar dari hidupnya dan bahkan ada orang yang terpaksa atau memang sengaja, tidak mau atau tidak mampu keluar dari urusan ini sampai akhir hidupnya didunia fana ini.

Dalam tahapan hidup duniawi ini, orang harus berhati-hati, untuk selalu berpegang kepada jalan yang benar dan baik yang diperkenankan Tuhan, jangan sampai tergoda oleh bujukan nafsu yang menyesatkan.

KASEPUHAN

Menginjak usia yang lebih tua, sepuh, emosi biasanya sudah lebih mudah untuk dikendalikan. Sudah banyak pengalaman hidup baik yang manis, susah sudah dilewati. Ada diantara kita yang berminat mempelajari Ngelmu Kasepuhan. Disebut kasepuhan karena memang biasanya disenangi oleh orang tua-tua atau orang dewasa yang bijak.

Kasepuhan dipelajari untuk menyembuhkan orang sakit, baik sakit fisik, maupun mental, membantu orang yang berada dalam kesulitan, memberikan perlindungan bagi yang perlu keselamatan, untuk membantu kelancaran usaha, pekerjaan dlsb.

NGELMU KASAMPURNAN/ NGELMU SEJATI

Inilah tingkatan ngelmu yang tertinggi dari Kejawen, istilah lainnya adalah Kebatinan,Kasunyatan atau Spiritualitas.
Ngelmu ini menguak kasunyatan atau realias dari kehidupan sejati. Orang bijak yang telah mencapai ngelmu sejati akan melihat kenyataan hidup yang sejati, dimana semuanya telah terbuka sehingga tidak ada lagi rahasia dalam kehidupan ini.

Catatan :

Artikel mengenai Kanoman dan Kanuragan yang lebih detail, bagi yang berminat supaya di-click di Bab. Aneka Ragam, karena Bab ini hanya khusus berisikan hal-hal yang termasuk dalam Spiritualitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puasa dalam Adat Kejawen

Mbah kembali lagi cerita tentang puasa kejawen ok nih mbah dapet dulu hmm sebagian besar c mbah pernah lakoni n hasilnya c oke2 aj tuh…….

1. Puasa Mutih
Dalam puasa mutih ini seseorang g boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tdk boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air puih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya
2. Puasa Ngeruh
Dalam melakoni puasa Ngeruh ini seseorang hanya boleh memakan sayuran / buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb. hmm ni bagus juga loh bisa jadi vegetarian
3. Puasa Ngebleng
Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur-pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya-pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.
4. Puasa Pati geni
Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaanya ialah tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya).
5. Puasa Ngelowong
Puasa Ngelowong ini lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.
6. Puasa Ngrowot
Puasa Ngrowot ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan itu saja. Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.
7. Puasa Nganyep
Puasa Nganyep ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih , perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.
8. Puasa Ngidang
Puasa Ngidang ini puasa yang hanya memperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.
9. Puasa Ngepel
Puasa Ngepel berarti puasa dengan makan satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.
10. Puasa Ngasrep
Puasa Ngasrep adalah puasa yang membolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.
11. Puasa Senin-kamis
Puasa senin kamis ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya. Puasa ini identik dengan agama islam. Karena memang Rasulullah SAW menganjurkannya.
12. Puasa Wungon
Puasa Wungon ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.
13. Puasa Tapa Jejeg
Tidak duduk selama 12 jam
14. Puasa Lelono
Puasa Lelono adalah melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).
15. Puasa Kungkum
Puasa Kungkum merupakan tapa yang sangat unik. yaitu berendam atau kungkum di sungai, danau ataupun laut. Banyak para pelaku spiritual merasakan sensasi yang dahsyat dalam melakukan tapa ini. Biasanya Kungkum dilakukan selama 7 malam biasanya
16. Puasa Ngalong
Puasa (Tapa) Ngalong ini juga begitu unik. Tapa ini dilakuakn dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.
17. Puasa Ngeluwang
Puasa (Tapa) Ngeluwang adalah puasa (Tapa) paling menakutkan bagi orang-orang awam dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Puasa (Tapa) Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari tapa ini, biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dlsb).

sumber : ringkasan kaskus in scribd.com (kalo g salah y cz lupa nih………..)

Nah di atas adalah bermacam-macam puasa yang dalam ajaran kejawen silahkan kalo o di coba

 

 

 

 

MUARA NGELMU KEJAWEN

Ilmu “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen. “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

Asal-usul Sastra Jendra dan Filosofinya

Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno. Tetapi baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada halaman 26;

Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pangruwat segala segala sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan juga binatang yang berada dihutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti Sastra Jendra akan diruwat oleh Batara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan para Dewa yang mulia…

Ajaran “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” mengandung isi yang mistik, angker gaib, kalau salah menggunakan ajaran ini bisa mendapat malapetaka yang besar. Seperti pernah diungkap oleh Ki Dalang Narto Sabdo dalam lakon wayang Lahirnya Dasamuka. Kisah ceritanya sebagai berikut;

Begawan Wisrawa mempunyai seorang anak bernama Prabu Donorejo, yang ingin mengawini seorang istri bernama Dewi Sukesi yang syaratnya sangat berat, yakni;

  1. Bisa mengalahkan paman Dewi Sukesi, yaitu Jambu Mangli, seorang raksasa yang sangat sakti.
  2. Bisa menjabarkan ilmu “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”

Prabu Donorejo tidak dapat melaksanakan maka minta bantuan ayahandanya, Begawan Wisrawa yang ternyata dapat memenuhi dua syarat tersebut. Maka Dewi Sukesi dapat diboyong Begawan Wisrawa, untuk diserahkan kepada anaknya Prabu Donorejo.

Selama perjalanan membawa pulang Dewi Sukesi, Begawan Wisrawa jatuh hati kepada Dewi Sukesi demikian juga Dewi Sukesi hatinya terpikat kepada Begawan Wisrawa. “Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito,” kisah Ki Dalang. Begawan Wisrawa telah melanggar ngelmu “Sastra Jendra”, beliau tidak kuat menahan nafsu seks dengan Dewi Sukesi. Akibat dari dosa-dosanya maka lahirlah anak yang bukan manusia tetapi berupa raksasa yang menakutkan, yakni;

  1. Dosomuko
  2. Kumbokarno
  3. Sarpokenoko
  4. Gunawan Wibisono

Setelah anak pertama lahir, Begawan Wisrawa mengakui akan kesalahannya, sebagai penebus dosanya beliau bertapa atau tirakat tidak henti-hentinya siang malam. Berkat gentur tapanya, maka lahir anak kedua, ketiga dan keempat yang semakin sempurna.Laku Begawan Wisrawa yang banyak tirakat serta doa yang tiada hentinya, akhirnya Begawan Wisrawa punya anak-anak yang semakin sempurna ini menjadi simbol bahwa untuk mencapai Tuhan harus melalui empat tahapan yakni; Sembah Raga, Sembah Kalbu, Sembah Sukma, Sembah Rahsa. Lakon ini mengingatkan kita bahwa untuk mengenal diri pribadinya, manusia harus melalui 4 tahap atau tataran-tataran tersebut. Jika dihadapkan dengan prinsip dalam Islam kurang lebihnya sepadan seperti uraian berikut :

1. Syariat; dalam falsafah Jawa syariat memiliki makna sepadan dengan Sembah Rogo.

2. Tarikat; dalam falsafah Jawa maknanya adalah Sembah Kalbu.

3. Hakikat; dimaknai sebagai Sembah Jiwa atau ruh (ruhullah).

4. Makrifat; merupakan tataran tertinggi yakni Sembah Rasa atau sir (sirullah).

Pun diceritakan dalam kisah Dewa Ruci, di mana diceritakan perjalanan Bima (mahluk Tuhan) mencari “air kehidupan” yakni sejatinya hidup. Air kehidupan atau tirta maya, dalam bahasa Arab disebut sajaratul makrifat. Bima harus melalui berbagai rintangan baru kemudia bertemu dengan Dewa Ruci (Dzat Tuhan) untuk mendapatkan “ngelmu”.

Bima yang tidak lain adalah Wrekudara/AryaBima, masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan “Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa Bima bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”. Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.

Atas petunjuk Dewa Ruci, Bima masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri. Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.

Ada empat macam benda yang tampak oleh Bima, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:”Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.

Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.

Lalu Bima melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.

Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.

Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.

Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.

Bila seseorang mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat menguraikan tentang sejatining urip (hidup), sejatining Panembah (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa), sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), dalam terminologi Islam disebut juga innalillahi wainna illaihi rojiuun, untuk menggapai alam kesucian (Budha: nirvana) kembali ke “hadapan” Tuhan YME dengan tata cara hidup layak untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu untuk mendapatkan tuntunan Sang Guru Sejati.

Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam istilah RNg Ronggowarsito disebut Kasidaning Parasadya atau pati prasida, bukan sekedar pati patitis atau pati pitaka. “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati prasida.

Bagi sseorang yang mengimplementasikan perbuatan dalam koridor “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau berupa “senjata” biasanya berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, merasakan sejatinya wahana Tuhan YME. Manusia mempunyai tugas berat dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Hyang Mahawisesa, Yang Maha Kuasa. Konsep ini dikenal sebagai wujud jumbuhing/manunggaling kawula lan Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci, pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Itulah inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” sebagai Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal.

Dalam dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;

Begawan Wisrawa menjadi lambang guru yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi. Ramawijaya sebagai penjelmaan Wisnu (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah), Keduanya sebagai lambang dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya.

  1. Dasamuka (raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai simbol dari nafsu amarah.
  2. Kumbakarna (raksasa) yang mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno menjadi lambang dari nafsu lauwamah.
  3. Sarpokenoko (raksasa setengah manusia) memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa. Ia menjadi simbol nafsu supiyah.
  4. Gunawan Wibisono (manusia seutuhnya); sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.
Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

Sifat Manusia Terpilih

Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”
Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”
Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.

Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat, nilai yang bersifat metafisis dan universe dari ajaran-ajaran di atas. Semoga bermanfaat.

Semoga para pembaca yang budiman di antara orang-orang yang terpilih dan pinilih untuk meraih ilmu sejatinya hidup.

Tentang bopong

saya penggemar budaya jawa saya guru SMA saya senang menulis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s